Kamis, 05 Maret 2015

“Puasa dan Perilaku Politik”
Momentum Bulan Ramadhan adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seantero dunia karena bulan ini diyakini sebagai bulan yang paling mulia dan akan dilipat gandakan semua amal dengan pahala. Bulan PuasaRamadhan adalah bulan untuk mensucikan diri  dari perilaku yang tidak diridhohi Allah SWT, melatih sifat jujur, sabar, dan mengekang hawa nafsu dari berbagai perbuatan yang siasia yang dapat merusak esensi puasa. Pada dasarnya bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan maghfirah (ampunan) sehingga dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan bahwa pada bulan ini Allah SWT akan membuka setiap pintu surga dan akan mem-belenggu syaithan. Maka dengan terbukanya pintu surga dan dibelenggunya syaithon dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan umat muslim. Selain itu ramadhan pun merupakan satu bulan yang Allah SWT telah mewajibkan puasa terhadap orang yang beriman.
Bulan puasa adalah bulan yang penuh dengan hikma sebagai bulan pendidikan bagi siapa saja yang mengaku beriman kepada Allah, sesuai firmanya dalam Al-Qur ansurah Al Baqarah ayat 183:
”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Perintah berpuasa seperti yang terdapat dalam surah diatas bertujuan untuk membentuk individu yang Muttaqin (bertakwa),manusia yang taat dan mensucikan diri dari godaan yang dapat menjerumuskan dirinya pada perbuatan dosa.
 Dan Allah berfirman :Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Qs.al-A'raf:31)
Manusia harus dibersihkan dari sifat rakus dalam menjalankan roda kehidupanya dipermukaan bumi, dengan puasa manusia dilatih untuk mersakan dan melatih kepedulian sosialnya dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat, ketimpangan, keterbatasan dan segala bentuk diskriminasi social.
Adapun hikmah berpuasa antara lain:
1.  Salah satu dari hikmah keutamaan puasa ramadhan ini bagi Umat Islam adalah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Hal ini berdasarkan sebuah dalil hadist yang berbunyi :"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mencari ridha Allah, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(Hadits Mutafaqun ‘Alaih).
2.  Meningkatkan rasa syukur kita terhadap banyaknya nikmat yang telah Allah Ta'ala anugerahkan kepada kita semuanya. Hal ini bisa kita lakukan dengan melakukan berbagai amalan kebaikan dalam bulan ramadhan seperti contohnya bersedekah kepada orang-orang fakir pada bulan Ramadhan mulia ini, Banyak memberi dan jadilah seseorang yang memberikan pemberian orang yang tidak takut miskin. Berderma dengan harta dan kebaikan kepada saudara-saudaramu yang membutuhkan, dan menjadi orang yang mensyukuri nikmat Allah.
3.  Ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang kurang berkecukupan. Dalam puasa kita tentu merasa lapar dan dahaga, mengingatkan kita betapa menyedihkannya nasib orang yang tidak berpunya. Mungkin kita hanya beberapa jam saja, lalu kita bisa berbuka puasa, sedangkan mereka yang miskin tak berpunya bisa saja puasa sepanjang siang dan malam. Tentu ini membuat kita menjadi lebih bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang diberikanNya.
4.  Melatih diri kita pribadi khususnya untuk menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Jika pada 11 bulan yang lalu kita sering melalaikan Allah untuk hal-hal yang bersifat duniawi, ini saatnya kita menata diri dalam beribadah kepadaNya, supaya tercapai keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat. Ibadah dan pekerjaan dunia haruslah seimbang, sehingga kita menjadi manusia yang seutuhnya yang banyak memberikan kebaikan kepada banyak manusia.
5.  Puasa akan membiasakan umat Islam untuk hidup disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dalam diri orang-orang beriman dan mendorong mereka berbuat kebajikan.
Hakekat shaum (puasa)
Shaum menurut bahasa yaitu alimsak (menahan diri), adapun pengertian menurut syari' yaitu menahan diri dengan niat dari seluruh yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan bersetubuh mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. (Anas ismail Abu Dzaud, 1996: 412) Namun, secara implisit dalam puasa terdapat dua nilai yang menjadi parameter antara sah atau rusaknya puasa seseorang.
Pertama, Nilai Formal yaitu yang berlaku dalam perspektif ini puasa hanya ditinjau dari segi menahan lapar, haus dan birahi.Maka menurut nilai ini, seseorang telah dikatakan berpuasa apabila dia tidak makan, minum dan melakukan hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan warning terhadap umat muslim melalui sebuah haditnya yang berbunyi :
"Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja" (H.R. bukhari).
Dari hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa hakekat atau esensi puasa tidak hanya menahan rasa lapar, haus dan gairah birahi saja, melainkan dalam puasa terkandung berbagai aturan, makna dan faedah yang mesti diikuti.
Kedua, Nilai Fungsional yaitu yang menjadi parameter sah atau rusaknya puasa seseorang ditinjau dari segi fungsinya.Adapun fungsinya yaitu untuk menjadikan manusia bertakwa (laa'lakum tattaqun).
Kemudian menurut nilai ini, puasa seseorang sah dan tidak rusak apabila orang tesebut dapat mencapai kualitas ketakwaan terhadap Allah SWT.
Perilaku elit politik di bulan Ramadhan
Mungkin kebanyakan orang berfikir bahwa momentum Ramadhan adalah kesempatan untuk membersihkan diri dari perilaku yang tidak baik dengan jalan mensucikan jwa dan pikiran dari tendesi hawa nafsu demi mencapai derajat Taqwa denganmelakukan berbagai cara yang bisa mendekatkan diri pada Allah SWT.
Momen ini ternyata dimanfaatkan para elit politik untuk melakukan sosialisasi diri di tengah masyarakat dengan berbagai kegiatan yang berbau “politis”, dengan program yang bermacam-macam, (“silaturrahim politik”) buka puasa bersama, mendatangi rumah yatim, tauziah, menyubang pesantren dan berbagai kegitan yang berfifat keagamaan.
Perilaku diatas menjamur dibergai tempat di Indonesia dalam menghadapi Pemilihan Presiden ( Pilpres ) yang akan berlangsun pada 9 Juli mendatang, dengan argumentasi kepedulian terhadap sesama demi mendapat simati politik.
Perilaku para elit polit seolah berubah 180 derajat dalam menyambut bulan Ramadhan demi mencari popularitas dan perhatian dari Masyarakat. Hal ini menjamaur dilakukan oleh para kandidat atau tim sukses. Mungkin bagi sebagian masyarakat ini mengutugkan, apatalagi di tengah naiknya harga kebutuhan pokok karena dipengaruhi oleh kenaikan harga di bulan Ramadhan.Mungkin juga ada yang memanfaatkan moment ini dengan meraut keuntungan yang sebesar-besarnya dengan mendatangkan calon untuk bersilaturahim dengan warga tertentu dengan harapan mendapatkan sumbangan dan lain sebagainya.
Selama bulan Romadhan ini semua calon pemimpin tersebut berlomba – lomba mempertontonkan kepada Masyarakat sebagai pemimpin yang “alim dan dermawan” dan seakan semuanya dipolitisasi dan dikapitalisasi demi kepentingan politik semata.
Siapa yang mampu memperoleh label tersebut, maka ia akan mendapatkan limpahan suara yang sangat besar nantinya pada saat pemilhan. Adakah yang salah terhadap perilaku politik tersebuat ?.
Kalau realitas politik di atas mau dikaitkan dengan esensi Ramadhan( Puasa ), maka bentuk perilaku yang dilakukan oleh elit politk telah keluar dari prinsip syariat kalau itu dilakukan demi mendapatkan popularitas belaka dan kepentingan kekuasaan. Silaturrahim tersebut sangatlah baik asalkan disertai dengan niat yang tulus dan Ikhlas demi kesejahteraan rakyat.Artinya para calon pemimpin tersebut tidak memberi dan berjanji untuk melakukan pembodohan dan kebohongan politik. Namun, ketika dalam dirinya terbesit bahwa silaturahim politik dilakukan untuk kepentingan kekuasaan semata, maka sebenarnya meraka telah menginkari kepercayaan rakyatnya dan meraka akan mendapatkan dosa politik apalagi dilakukan dalam bulan suci Ramadhan ini.
Puasa seharusnya dimaknai sebagai ajang untuk mendidik diri supaya tercipta kepekaan sosial dan moral politik, yang tinggi sehingga nilai-nilai moralitas politik tetap terjaga.Puasa juga seharus mendidik kita untuk tidak menjadi orang yang tidak bermental korup karena sangat dituntutut kejujuran serta sabar dimana hanya Allah dan diri seorang hamba yang tahu.
Nilai-nilai lainya yang di ajarkan dalam ritual puasa adalah untuk memperkokoh hubungan manusia dan Sang Khaliq serta memperkokoh nilai-nilai sosial melalui zakat, infaq dan sedekah serta amal sosial lainnya.

Semoga hikmah puasa senantiasa kita jadikan patron untuk melakukan aktivitas dalam bulan Ramadhan ini bukan malah merusaknya dengan moral politik yang tidak baik (Black Campaing dan Negative Campaing) supaya masyarakat sadar akan arti dari sebuah ketulusan. 


2014


“Mungkin Tuhan Mulai Bosan”
Demam batu ahir-ahir ini seakan menghegemoni kehidupan masyarakat dan mengalihkan perhatian semua orang mulai dari pengeraji sampai pengolekasi yang demam sama yang namanya batu cicin, bahkan menjadi komuditas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan batu. Disaat itu pula bangsa kita dirundung masalah. Mulai dari konflik KPK dan POLRI sampai permasalahan banjir yang melanda bebepara propinsi yang ada di indonesia. Eksekusi mati warga Australia yang menjadi kurir narkoba yang sampai ahir ini menjadi polemik kebangsaan, aksi geng motor yang meresahkan masyarakat dll. Belum selesai demam batu yang hampir menyerap semua perhatian masyarakat, kini muncul lagi trend baru yang dengan panggilan “AYAAAH” dengan bermacam panggilan ( Borka Ayah, Stater kosongka Ayah, dll ) yang menjadi perbicangan dijejaring sosial. Dalam keadaan seperti ini sekan negara tidak punya orientasi, masyarakat seakan “galau” melihat fenomena yang terjadi di bangsa ini, para elit asyik membagi kue kekuasaan yang sering kali menagatas namakan rakyat.
Pemimpin yang didabankan rakyat seakan tak berdaya menghadapi situasi seperti ini pasalnya rakyat lebih sibuk dengan urusannya masing-masing dan seakan tidak peduli dengan persoalan kebangsaan. Kita punya kepela negara tapi tak terasa sentuhannya yang katanya dari rakyat dan merayakyat. Kebangsaan kita kocar kacir ditambah lagi pengamat ngomong sana sini mengamati permainan akrobat politik para elit indonesia. Para pengusaha menjalankan bisnisnya dengan penuh harap mendapatkan keutungan yang sebesar-besarnya. Para pakar hukum bicara bagaimana bangsa ini dapat taat hukum, para ekonom bicara bagaimana bangsa ini dapat sejahtra dan bersaing secara ekonomi dengan bangsa lain. Para agamawan bicara bagaimana supaya kehidupan manusia kembali pada jalan Tuhannya dan mengabdi pada kemanusiaan. Para politisisi bicara bagaimana bangsa ini dikelola dengan baik dan seterusnya. Semuanya bicara dengan berbagai sudut pandang dan ilmu masisng-masing.
Semua sudah bicara sesuai kapasitasnya masing-masing dengan harapan bangsa ini tertata dengan baik dan keluar dari belenggu masalah. Seperti bangsa kita akan terus dilanda masalah mulai dari hal yang terkecil sampai masalah terbesar. Belum lagi hasil kekayaan alam kita yang desploitasi secara besar-besaran tapi hanya dinikmati segelintir orang karena kenyataanya rakyat belum sejahtra padahal dari setiap pergantian kepemimpinan semua bicara kesejahtraan rakyat dan keadilan sosial tapi kenyataannya berbeda. Rakyat sibuk dengan urusannya masing-masing dan seolah pesimis dengan janji-janji para pemimpin bangsa ini karena itu memang janji dan tinggal janji bagi mereka yang tetap melarat walaupun berganti kepemimpinan.
“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang penuh dengan dosa” apakah ini yang menajdi sebab, seperti nyanyian Ebit G. Ade.
Seperti firman Allah: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)
Dinamika politik bangsa ini seolah adalah permainan belaka yang berorientasi pada kekuasaan semata dan mengabaikan aspek kemanusiaan bahkan negara hadir sebagai penindas bukan menjadi bagian dari solusi atas derita rakyat yang melarat. Bangsa yang besar tapi keropos akan rasa keadalin, boleh jadi inilah awal kehancuran kita sehingga tidak mendapatkan rahmat dari sang penguasa alam semesta dengan rentetantan permasalahan yang menimpa negeri ini.
Kepemimpinan sangat mempengaruhi arah bangsa kedepan dan seorang pemimpin yang taat sama Tuhan pasti akan mengabdi pada kemanusiaan dan  sejarah kepemimpinan bangsasa ini dibangun atas dasar ketuhanan yang Maha Esa menjadi pondasi dan pijakan para foundding Father kita. Pemimpin yang taat pada Allah dan RasuNya tidak mungkin berhianat sama rakyatnya dan ukuran ketaatan rakyat ketika pemimpin mempunyai hubungan transendensi dengan Tuhanya (QS: An-Nisa: 59 )
Arah bangsa ini akan baik apabila para pemimpinya tidak kehilangan mental spritualnya dalam mengarungi dan menahkodai bagsa ini mulai dari level atas sampai bawah. Kepemimpinan yang baik dimulai dari diri sendiri dan keluarga yang menjadi titik tekan dalam mengarungi kehiupan berbangsa dan bernegara. Memilih pemimpin lihatlah keluarganya, lingkungan kesehariannya karena disitulah kepemimpinan dimulai.
Jangan biarkan Tuhun bosan melihat tingkah kita dalam mengembang amanah di negeri ini, mulai dari pejabat ekesekutif, legislatif, yudikatif dan semua komponen bangsa ini harus kembali mereflesikan kehidupan agar bangsa ini sampai pada cita-cita bersama.
Allah akan memeberikan jalan keluar bagi hambanya ( pemimpin ) yang bertaqwa dari setiap persaoalan yang dihadapi bangsa ini.
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS: At Thalaq: 2-3)
Allah hanya memberikan pertolongan kepeda mereka yang disebutkan diatas kepada orang yang bertakwa dan yakin akan pertolonganNya.  Kebanyakan  kita sulit untuk keluar dari berbagai masalah karena kurang bertakwa dan yakin akan pertolongan Allah. Kita terlalu mengandalkan akal dan kemampuan diri , sehingga kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan Allah. Kebanyakan kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, enggan bergantung dan memohon pada Allah. Bahkan beranggapan berdoa dan memohon pada Allah sebagai usaha yang sia sia saja. Padahal Allah telah menjanjikan kepad hambanya “ Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.  Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” ( Qs Al Anbiya : 105-106 )