Kamis, 05 Maret 2015

“Mungkin Tuhan Mulai Bosan”
Demam batu ahir-ahir ini seakan menghegemoni kehidupan masyarakat dan mengalihkan perhatian semua orang mulai dari pengeraji sampai pengolekasi yang demam sama yang namanya batu cicin, bahkan menjadi komuditas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan batu. Disaat itu pula bangsa kita dirundung masalah. Mulai dari konflik KPK dan POLRI sampai permasalahan banjir yang melanda bebepara propinsi yang ada di indonesia. Eksekusi mati warga Australia yang menjadi kurir narkoba yang sampai ahir ini menjadi polemik kebangsaan, aksi geng motor yang meresahkan masyarakat dll. Belum selesai demam batu yang hampir menyerap semua perhatian masyarakat, kini muncul lagi trend baru yang dengan panggilan “AYAAAH” dengan bermacam panggilan ( Borka Ayah, Stater kosongka Ayah, dll ) yang menjadi perbicangan dijejaring sosial. Dalam keadaan seperti ini sekan negara tidak punya orientasi, masyarakat seakan “galau” melihat fenomena yang terjadi di bangsa ini, para elit asyik membagi kue kekuasaan yang sering kali menagatas namakan rakyat.
Pemimpin yang didabankan rakyat seakan tak berdaya menghadapi situasi seperti ini pasalnya rakyat lebih sibuk dengan urusannya masing-masing dan seakan tidak peduli dengan persoalan kebangsaan. Kita punya kepela negara tapi tak terasa sentuhannya yang katanya dari rakyat dan merayakyat. Kebangsaan kita kocar kacir ditambah lagi pengamat ngomong sana sini mengamati permainan akrobat politik para elit indonesia. Para pengusaha menjalankan bisnisnya dengan penuh harap mendapatkan keutungan yang sebesar-besarnya. Para pakar hukum bicara bagaimana bangsa ini dapat taat hukum, para ekonom bicara bagaimana bangsa ini dapat sejahtra dan bersaing secara ekonomi dengan bangsa lain. Para agamawan bicara bagaimana supaya kehidupan manusia kembali pada jalan Tuhannya dan mengabdi pada kemanusiaan. Para politisisi bicara bagaimana bangsa ini dikelola dengan baik dan seterusnya. Semuanya bicara dengan berbagai sudut pandang dan ilmu masisng-masing.
Semua sudah bicara sesuai kapasitasnya masing-masing dengan harapan bangsa ini tertata dengan baik dan keluar dari belenggu masalah. Seperti bangsa kita akan terus dilanda masalah mulai dari hal yang terkecil sampai masalah terbesar. Belum lagi hasil kekayaan alam kita yang desploitasi secara besar-besaran tapi hanya dinikmati segelintir orang karena kenyataanya rakyat belum sejahtra padahal dari setiap pergantian kepemimpinan semua bicara kesejahtraan rakyat dan keadilan sosial tapi kenyataannya berbeda. Rakyat sibuk dengan urusannya masing-masing dan seolah pesimis dengan janji-janji para pemimpin bangsa ini karena itu memang janji dan tinggal janji bagi mereka yang tetap melarat walaupun berganti kepemimpinan.
“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang penuh dengan dosa” apakah ini yang menajdi sebab, seperti nyanyian Ebit G. Ade.
Seperti firman Allah: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)
Dinamika politik bangsa ini seolah adalah permainan belaka yang berorientasi pada kekuasaan semata dan mengabaikan aspek kemanusiaan bahkan negara hadir sebagai penindas bukan menjadi bagian dari solusi atas derita rakyat yang melarat. Bangsa yang besar tapi keropos akan rasa keadalin, boleh jadi inilah awal kehancuran kita sehingga tidak mendapatkan rahmat dari sang penguasa alam semesta dengan rentetantan permasalahan yang menimpa negeri ini.
Kepemimpinan sangat mempengaruhi arah bangsa kedepan dan seorang pemimpin yang taat sama Tuhan pasti akan mengabdi pada kemanusiaan dan  sejarah kepemimpinan bangsasa ini dibangun atas dasar ketuhanan yang Maha Esa menjadi pondasi dan pijakan para foundding Father kita. Pemimpin yang taat pada Allah dan RasuNya tidak mungkin berhianat sama rakyatnya dan ukuran ketaatan rakyat ketika pemimpin mempunyai hubungan transendensi dengan Tuhanya (QS: An-Nisa: 59 )
Arah bangsa ini akan baik apabila para pemimpinya tidak kehilangan mental spritualnya dalam mengarungi dan menahkodai bagsa ini mulai dari level atas sampai bawah. Kepemimpinan yang baik dimulai dari diri sendiri dan keluarga yang menjadi titik tekan dalam mengarungi kehiupan berbangsa dan bernegara. Memilih pemimpin lihatlah keluarganya, lingkungan kesehariannya karena disitulah kepemimpinan dimulai.
Jangan biarkan Tuhun bosan melihat tingkah kita dalam mengembang amanah di negeri ini, mulai dari pejabat ekesekutif, legislatif, yudikatif dan semua komponen bangsa ini harus kembali mereflesikan kehidupan agar bangsa ini sampai pada cita-cita bersama.
Allah akan memeberikan jalan keluar bagi hambanya ( pemimpin ) yang bertaqwa dari setiap persaoalan yang dihadapi bangsa ini.
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. 3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS: At Thalaq: 2-3)
Allah hanya memberikan pertolongan kepeda mereka yang disebutkan diatas kepada orang yang bertakwa dan yakin akan pertolonganNya.  Kebanyakan  kita sulit untuk keluar dari berbagai masalah karena kurang bertakwa dan yakin akan pertolongan Allah. Kita terlalu mengandalkan akal dan kemampuan diri , sehingga kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan Allah. Kebanyakan kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, enggan bergantung dan memohon pada Allah. Bahkan beranggapan berdoa dan memohon pada Allah sebagai usaha yang sia sia saja. Padahal Allah telah menjanjikan kepad hambanya “ Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.  Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” ( Qs Al Anbiya : 105-106 )



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar