“Mungkin
Tuhan Mulai Bosan”
Demam
batu ahir-ahir ini seakan menghegemoni kehidupan masyarakat dan mengalihkan
perhatian semua orang mulai dari pengeraji sampai pengolekasi yang demam sama
yang namanya batu cicin, bahkan menjadi komuditas ekonomi dan membuka lapangan
pekerjaan batu. Disaat itu pula bangsa kita dirundung masalah. Mulai dari
konflik KPK dan POLRI sampai permasalahan banjir yang melanda bebepara propinsi
yang ada di indonesia. Eksekusi mati warga Australia yang menjadi kurir narkoba
yang sampai ahir ini menjadi polemik kebangsaan, aksi geng motor yang
meresahkan masyarakat dll. Belum selesai demam batu yang hampir menyerap semua
perhatian masyarakat, kini muncul lagi trend baru yang dengan panggilan “AYAAAH”
dengan bermacam panggilan ( Borka Ayah, Stater kosongka Ayah, dll ) yang
menjadi perbicangan dijejaring sosial. Dalam keadaan seperti ini sekan negara
tidak punya orientasi, masyarakat seakan “galau” melihat fenomena yang terjadi
di bangsa ini, para elit asyik membagi kue kekuasaan yang sering kali menagatas
namakan rakyat.
Pemimpin
yang didabankan rakyat seakan tak berdaya menghadapi situasi seperti ini
pasalnya rakyat lebih sibuk dengan urusannya masing-masing dan seakan tidak
peduli dengan persoalan kebangsaan. Kita punya kepela negara tapi tak terasa
sentuhannya yang katanya dari rakyat dan merayakyat. Kebangsaan kita kocar
kacir ditambah lagi pengamat ngomong sana sini mengamati permainan akrobat
politik para elit indonesia. Para pengusaha menjalankan bisnisnya dengan penuh
harap mendapatkan keutungan yang sebesar-besarnya. Para pakar hukum bicara
bagaimana bangsa ini dapat taat hukum, para ekonom bicara bagaimana bangsa ini
dapat sejahtra dan bersaing secara ekonomi dengan bangsa lain. Para agamawan
bicara bagaimana supaya kehidupan manusia kembali pada jalan Tuhannya dan
mengabdi pada kemanusiaan. Para politisisi bicara bagaimana bangsa ini dikelola
dengan baik dan seterusnya. Semuanya bicara dengan berbagai sudut pandang dan
ilmu masisng-masing.
Semua
sudah bicara sesuai kapasitasnya masing-masing dengan harapan bangsa ini
tertata dengan baik dan keluar dari belenggu masalah. Seperti bangsa kita akan
terus dilanda masalah mulai dari hal yang terkecil sampai masalah terbesar.
Belum lagi hasil kekayaan alam kita yang desploitasi secara besar-besaran tapi
hanya dinikmati segelintir orang karena kenyataanya rakyat belum sejahtra
padahal dari setiap pergantian kepemimpinan semua bicara kesejahtraan rakyat
dan keadilan sosial tapi kenyataannya berbeda. Rakyat sibuk dengan urusannya
masing-masing dan seolah pesimis dengan janji-janji para pemimpin bangsa ini
karena itu memang janji dan tinggal janji bagi mereka yang tetap melarat
walaupun berganti kepemimpinan.
“Mungkin
Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang penuh dengan dosa” apakah ini yang
menajdi sebab, seperti nyanyian Ebit G. Ade.
Seperti
firman Allah: Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)
(QS: Al-A'raf Ayat: 96)
Dinamika
politik bangsa ini seolah adalah permainan belaka yang berorientasi pada
kekuasaan semata dan mengabaikan aspek kemanusiaan bahkan negara hadir sebagai
penindas bukan menjadi bagian dari solusi atas derita rakyat yang melarat. Bangsa
yang besar tapi keropos akan rasa keadalin, boleh jadi inilah awal kehancuran
kita sehingga tidak mendapatkan rahmat dari sang penguasa alam semesta dengan
rentetantan permasalahan yang menimpa negeri ini.
Kepemimpinan
sangat mempengaruhi arah bangsa kedepan dan seorang pemimpin yang taat sama
Tuhan pasti akan mengabdi pada kemanusiaan dan sejarah kepemimpinan bangsasa ini dibangun
atas dasar ketuhanan yang Maha Esa menjadi pondasi dan pijakan para foundding Father
kita. Pemimpin yang taat pada Allah dan RasuNya tidak mungkin berhianat sama rakyatnya
dan ukuran ketaatan rakyat ketika pemimpin mempunyai hubungan transendensi
dengan Tuhanya (QS: An-Nisa: 59 )
Arah
bangsa ini akan baik apabila para pemimpinya tidak kehilangan mental
spritualnya dalam mengarungi dan menahkodai bagsa ini mulai dari level atas
sampai bawah. Kepemimpinan yang baik dimulai dari diri sendiri dan keluarga
yang menjadi titik tekan dalam mengarungi kehiupan berbangsa dan bernegara.
Memilih pemimpin lihatlah keluarganya, lingkungan kesehariannya karena
disitulah kepemimpinan dimulai.
Jangan
biarkan Tuhun bosan melihat tingkah kita dalam mengembang amanah di negeri ini,
mulai dari pejabat ekesekutif, legislatif, yudikatif dan semua komponen bangsa
ini harus kembali mereflesikan kehidupan agar bangsa ini sampai pada cita-cita
bersama.
Allah
akan memeberikan jalan keluar bagi hambanya ( pemimpin ) yang bertaqwa dari
setiap persaoalan yang dihadapi bangsa ini.
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar. 3. Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan
yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi
tiap-tiap sesuatu. (QS: At Thalaq: 2-3)
Allah hanya memberikan pertolongan kepeda mereka yang
disebutkan diatas kepada orang yang bertakwa dan yakin akan pertolonganNya.
Kebanyakan kita sulit untuk keluar dari berbagai masalah karena
kurang bertakwa dan yakin akan pertolongan Allah. Kita terlalu mengandalkan
akal dan kemampuan diri , sehingga kurang yakin akan kemampuan dan kekuatan
Allah. Kebanyakan kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, enggan
bergantung dan memohon pada Allah. Bahkan beranggapan berdoa dan memohon pada
Allah sebagai usaha yang sia sia saja. Padahal Allah telah menjanjikan kepad
hambanya “ Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis
dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang
saleh. Sesungguhnya (apa yang disebutkan) dalam (surat) ini, benar-benar
menjadi peringatan bagi kaum yang menyembah (Allah).” ( Qs Al Anbiya : 105-106
)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar