Selasa, 30 April 2013
PC IMM Banyumas: Download Materi LID PC IMM Banyumas
PC IMM Banyumas: Download Materi LID PC IMM Banyumas: Silahkan download Materi LID PC IMM Banyumas Klik gambar download dibawah ini setelah itu tunggu 5 detik dan klik "Lewati" ...
Selasa, 05 Maret 2013
Tentang Manusia
Sejarah perjalan manusia sudah begitu jauh
melintasi zaman, mengarungi masa, dan akan bermuara pada titik permulaan yaitu
awal itu sendiri. Sejarah peradaban manusia mengantarkan pada keterbukaan
terhadap dunia, tempat tinggalnya. Perubahan pisik seiring dengan perubahan
pola pikir yang mulai terbuka dengan apa yang di luar dirinya.
Perubahan paradigma atau cara berfikir sangat
dipengaruhi oleh perubahan cara pandang terhadap alam sekeliling. Perubahan
cara pandang sangat menentukan seperti apa arah kehidupan manusia kedepan
karena setiapa buah pemikiran akan menentukan langkah dan kerja manusia.
Perubahan paradigma menggeser pola berfikir lama
(mitologi) menjadi rasional adalah hal yang sangat sulit kareana melalui
perjalan yang sangat panjang. Pemikiran teologis dan filosofis membuat manusia
bernilai dan mendapat posisi yang lebih dibandingkan mahlu lain.
Pergeseran
ini merubah perilaku manusia dalam bertindak dan berinteraksi dengan sesamanya.
Mengukir peradaban yang hampir tidak bisa dikontrol oleh manusia karena sudah
melampaui nalar moralitas. Peradaban melahirkan kebudayaan yang begitu pesat
dan maju dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Kemajuan ini seakan menjadi
hal yang luar biasa yang pernah diukir dalam sejarah kehidupan manusia, bahkan
wilayah ketuhanan seakan bukan lagi menjadi hal yang sakral.
Oleh manusia sekarang, kemajuan ini disebut dengan
era Globalisasi, yang katanya sekat antar negara terbuka bahkan lebih dekat
karena telah memasuki dan merasuki pikran manusia melalui teknologi informasi.
Dunia seakan menjadi kecil dan sempit dengan kemajuan teknologi informasi yang
diciptakan manusia bahkan menghilangkan kesadaran manusia akan “kekuatan” lain
di luar dirinya, kehebatan ini yang disebut sebagai kemajuan peradaban.
Manusia
mengukir sejarahnya tiada henti mengikuti hembusan nafasnya yang kian hari mulai
melemah dan akhirnya kembali kepada pemilikNya.
Ukiran sejarah itu membuat manusia dikenang
sepanjang zaman bahkan malaikatpun iri dengan kelebihan yang dimiki oleh
manusia. Manusia adalah mahluk yang termulia diantara ciptaan Tuhan, karena
manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan mahluk yang lain. Sejarah ini
tidak akan berakhir hingga Tuhan berkehendak untuk menghentiakannya karena,
hanya Tuhan yang punya kuasa atas segala-galanya.
Begitulah cerita manusia yang akan terus mewarnai
kehidupan di permukaan bumi.
Tentang Manusia
Sejarah perjalan manusia sudah begitu jauh
melintasi zaman, mengarungi masa, dan akan bermuara pada titik permulaan yaitu
awal itu sendiri. Sejarah peradaban manusia mengantarkan pada keterbukaan
terhadap dunia, tempat tinggalnya. Perubahan pisik seiring dengan perubahan
pola pikir yang mulai terbuka dengan apa yang di luar dirinya.
Perubahan paradigma atau cara berfikir sangat
dipengaruhi oleh perubahan cara pandang terhadap alam sekeliling. Perubahan
cara pandang sangat menentukan seperti apa arah kehidupan manusia kedepan
karena setiapa buah pemikiran akan menentukan langkah dan kerja manusia.
Perubahan paradigma menggeser pola berfikir lama
(mitologi) menjadi rasional adalah hal yang sangat sulit kareana melalui
perjalan yang sangat panjang. Pemikiran teologis dan filosofis membuat manusia
bernilai dan mendapat posisi yang lebih dibandingkan mahlu lain.
Pergeseran
ini merubah perilaku manusia dalam bertindak dan berinteraksi dengan sesamanya.
Mengukir peradaban yang hampir tidak bisa dikontrol oleh manusia karena sudah
melampaui nalar moralitas. Peradaban melahirkan kebudayaan yang begitu pesat
dan maju dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Kemajuan ini seakan menjadi
hal yang luar biasa yang pernah diukir dalam sejarah kehidupan manusia, bahkan
wilayah ketuhanan seakan bukan lagi menjadi hal yang sakral.
Oleh manusia sekarang, kemajuan ini disebut dengan
era Globalisasi, yang katanya sekat antar negara terbuka bahkan lebih dekat
karena telah memasuki dan merasuki pikran manusia melalui teknologi informasi.
Dunia seakan menjadi kecil dan sempit dengan kemajuan teknologi informasi yang
diciptakan manusia bahkan menghilangkan kesadaran manusia akan “kekuatan” lain
di luar dirinya, kehebatan ini yang disebut sebagai kemajuan peradaban.
Manusia
mengukir sejarahnya tiada henti mengikuti hembusan nafasnya yang kian hari mulai
melemah dan akhirnya kembali kepada pemilikNya.
Ukiran sejarah itu membuat manusia dikenang
sepanjang zaman bahkan malaikatpun iri dengan kelebihan yang dimiki oleh
manusia. Manusia adalah mahluk yang termulia diantara ciptaan Tuhan, karena
manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan mahluk yang lain. Sejarah ini
tidak akan berakhir hingga Tuhan berkehendak untuk menghentiakannya karena,
hanya Tuhan yang punya kuasa atas segala-galanya.
Begitulah cerita manusia yang akan terus mewarnai
kehidupan di permukaan bumi.
Minggu, 20 Januari 2013
Irama Perjuangan...
Irama perjuangan...
Seiring perjalan waktu yang terus berlalu menggugah semangat perjuangan seorang manusia dalam mengembang titah Tuhannya. Bergulat dengan bisikan setan yang terus menggoda, supaya manusia terjerumus dalam dosa. Setiap perjalan hidup seakan bertanya akan pentingnya perjuangan dalam melakoni peran kekhalifaan. Tarikan nafas suci seakan menggugah eksistensi manusia di permukaan bumi yang cenderung terjerumus dalam lumuran dosa. Menyandarkan harap kepada sang pemilik alam semesta, agar dunia tidak menjebak manusia kedalam lumpur kehinaan.
Berjuangan dengan dorongan iman, berjuang atas kesadaran ilahi dengan penuh harap kembali kepadaNya. Seandainya dunia tidak dipenuhi hiasan maka manusia tidak rakus dalam melakoni hidupnya tapi Tuhan berkehendak lain, untuk mengajarkan manusia arti kehidupan. Manusiapun dituntut untuk membeakali diri dengan petunjukNya supaya manusia tidak tersesat.
Irama perjuangan manusia sejalan dengan nafasnya yang terus berhembus sampai ajal menjemputnya, pertanda bahwa kehidupan baru telah dimulai.
Seiring perjalan waktu yang terus berlalu menggugah semangat perjuangan seorang manusia dalam mengembang titah Tuhannya. Bergulat dengan bisikan setan yang terus menggoda, supaya manusia terjerumus dalam dosa. Setiap perjalan hidup seakan bertanya akan pentingnya perjuangan dalam melakoni peran kekhalifaan. Tarikan nafas suci seakan menggugah eksistensi manusia di permukaan bumi yang cenderung terjerumus dalam lumuran dosa. Menyandarkan harap kepada sang pemilik alam semesta, agar dunia tidak menjebak manusia kedalam lumpur kehinaan.
Berjuangan dengan dorongan iman, berjuang atas kesadaran ilahi dengan penuh harap kembali kepadaNya. Seandainya dunia tidak dipenuhi hiasan maka manusia tidak rakus dalam melakoni hidupnya tapi Tuhan berkehendak lain, untuk mengajarkan manusia arti kehidupan. Manusiapun dituntut untuk membeakali diri dengan petunjukNya supaya manusia tidak tersesat.
Irama perjuangan manusia sejalan dengan nafasnya yang terus berhembus sampai ajal menjemputnya, pertanda bahwa kehidupan baru telah dimulai.
Jumat, 18 Januari 2013
Gerakan Paripurna Mahasiswa
“Gerakan Paripurna Mahasiswa”
Melihat
fonemana akhir-akhir ini seakan Mahasiswa kehilangan arah, cacian untuk mereka
bermunculan silih berganti dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka seakan
kehilangang roh gerakan, identitasnya di gadaikan untuk kepentingan pragmatis.
Gerakan mereka diperjualbelikan untuk kepentingan suatu kelompok, klaim
kepentingan bermunculan dimana-mana. Mereka yang dulunya “RAKUS” ( Rasional,
Analisis, Kritis, Universal dan Sistematis) berubah secara total. Dulu mereka
dikenal terpelajar dan disanjung, kini berubah menjadi orang yang beringas,
suka tawuran, demonstran yang menyusahkan masyarakat. Presepsi masyarakat
berubah seiring dengan bergesernya “orientasi” Mahasiswa ??.
Menanggapi
persoalan dia atas, mahasiswa kehilangan arah, boleh jadi karena hilangnya
kepercayaan dan tidak adanya lagi tumpuan untuk mengadukan persoalan yang ada
dibenak mereka.
Frustasi
melihat persoalan kebangsaan yang digadaikan oleh mereka yang mengaku wakil
rakyat dengan mengatasnamakan rakyat. Hilangnya kepercayaan dari masyarakat
yang seharusnya menjadi bagian dari roh gerakan dalam memberikan sprit, berbagai
persoalan yang muncul menyudutkan mahasiswa.
Bagi
saya, mahasiswa adalah tumpuan
terakhir bagi generasi penerus bangsa. Merka adalah pemuda yang punya cita-cita
luhur, mereka mewarisi semangat muda
dalam melihat persoalan di negeri ini. Mahasiswa adalah sosok yang takan pernah
tergantikan dalam sejarah bangsa indonesia yang masih memegang teguh amanat
dari rakyat karena mereka lahir dari rahim yang sama yaitu, ibu pertiwi.
Gerakan mahasiswa takan pernah habis dibahas dari waktu kewaktu, meraka adalah
tunas muda yang senantiasa akan tumbuh dan menjalar samapi menghasilkan
tunas-tunas muda berikutnya. Mereka tidak bisa dibungkam oleh siapapun karena
akan senantiasa menjadi martil-martil tangguh.
Teriakan
mahasiswa adalah mantra bagi “setan-setan” negeri ini yang menghantui
masyarakat indonesia. Mereka akan tetap bergumam menyuarakan suara kebenaran
demi satu tujuan, “rakyat berdaulat”.
Sudah
saatnya mahasiswa bangkit dari kerterpurukkan presepsi masyarakat yang
kebanyakan lahir dari asumsi tak berdasar.
Paradigma
masyarakat terhadap mahasiwa akan berubah ketika mereka memaknai trilogi gerakan
yang ada di bawah ini.
1. Gerakan
Spritual
"Orang yang spiritualitasnya berkembang
melalui
nilai-nilai positif dari disiplin,
penguasaan dan cinta, adalah orang yang memiliki
kompetensi luar biasa, dan mereka terpanggil dan
menjawab panggilan untuk melayani dunia dengan cinta mereka."
(M. Scott Peck, M.D, dalam The Road Less Traveled)
nilai-nilai positif dari disiplin,
penguasaan dan cinta, adalah orang yang memiliki
kompetensi luar biasa, dan mereka terpanggil dan
menjawab panggilan untuk melayani dunia dengan cinta mereka."
(M. Scott Peck, M.D, dalam The Road Less Traveled)
Istilah “spiritual” berasal dari kata dasarnya
“spirit”, yang berarti roh. Ada juga istilah lain yaitu: “spiritus” dalam
Bahasa Latin berarti bahan bakar. Mahasiswa tidak boleh
kehilangan roh yang menjadi dasar perjuangan dalam meneriakkan suara kebenaran.
Gerakan spritual adalah gerakan ketuhanan yang memaknai semua kerja adalah
dorongan dari yang Maha Suci ( Allah ). Perjuangan tidak akan pernah berhasil
secara sempurna tanpa dasar spritual karena akan berujung pada kehampaan
pemaknaan hidup. Gerakan mahasiswa adalah gerakan pencerahan, mengankat derajat
kaum tertindas (Mustad’afin) sebagai seruan dari Tuhan sehingga pengapdiannya
tidak terlepas dari dari kuatnya dorongan spritualitas.
Menurut
saya spritualitas adalah dalil bagi mahasiswa untuk melakukan perlawan kepada
siapa yang menginkari nilai kemanusiaan atau yang melakukan penindasan secara
psikologi dan pisik terhadap rakyat yang disebut oleh Soekarno, “Marhaen”.
Keberpihakan kepada masyarakat tertindas adalah
penerjemahan terhadap gerakan spritual dimana keberpihakan itu adalah
manifestasi dari perintah Tuhan. Spritual tidak hanya menyangkut dan berkaitan
dengan batiniah seorang manusia tapi, spritual adalah bentuk riil atas
kesadaran manusia sebagai hamba Tuhan yang ingin melanjutkan pesan Tuhan dalam
tindakan keberpihakan.
2. Gerakan Intelektual
Seorang Intelektual bagi saya, adalah bukan mereka
yang jago bicara, ceramah, pidato atau ahli dalam berkomunikasi. Intelektual adalah
mereka yang resah melihat ketika ketidak adilan dan melakukan perlawanan,
pembelaan dan keberpihakan. Gerakan intelektual, bukan gerakan teoritis belaka
tapi gerakan praktis karena bersentuhan
langsung dengan realitas sosial. Bangunan idealisme sangat menentukan
arah gerakan intelektual dalam menentukan gerak dan langkah menuju perubahan
kearah yang lebih baik.
Ide-ide kaum intelektual mengalir menelusuri lorong,
mengisi ruang
Aku ingin mengajakmu dalam
perdebatan visi supaya kita menuju pada kekekalan sejarah dan tidak terjebak
pada dogma dan buaian mimpi yg tak bertepi. Keluhuran Visi akan terlihat dengan
kesungguhan Misi dalam menjalankan proses kehidupan.
Cinta adalah senjatah ampuh
untuk meruntuhkan ego dan dogma, karena cinta bermuara pada kehidupan hakiki. Bukan
mereka yang bercerita tentang janji tapi mereka yang bercerita tentang kisah.
Menjadi arif adalah hal yang
paling indah untuk menjelajahi kehidupan yang penuh fatamorgana.
Bangun sejarahmu sendiri dengan
karya dan kerja-kerja intelektual. Terbebas dari kungkungan pemikiran yang
cenderung menggiring pada arah yang tak terjangkau akan realitas, karena kita
akan menuju pada persamaan hakiki. Bebas dari dominasi eksisistensi, bebas dari
sekte kelompok, bebas dari paksaan kehendak, bebas dari dominsasi strutural dan
bebas menentukan pilihan hidup.
Aku mengajakmu untuk masuk pada
ide yang sama supaya kita menajdi satu, bagian dari sejarah. Aku mengajakmu menerawang menjadi corong
kehidupan, menjelajah dalam buaian samudra tanpa tepi, menjangkau kearifan dan
cinta Sang pemilik keabadian.
Aku ingin kita berbaur dalam
rasa bukan dalam bentuk, berbaur dalam cita bukan dalam angan karena kita akan
menyatu dengan keabadian.
Sang pemilik keabadian adalah
tujuan terindah untuk memabawa cinta hakiki secara totalitas hingga kita lupa
akan diri.
Selasa, 01 Januari 2013
“IMM DI TENGAH ARUS TAK BERMORAL”
“IMM DI TENGAH ARUS
TAK BERMORAL”
Hancurnya tatanan sosial yang selama ini terbangun karena moral yang
rapuh, yang menyebabkan kehidupan menjadi serba instan dan mekanik. Salah satu
tolak ukur yang bisa digunakan untuk menilai bangunan kehidupan suatu
masyarakat adalah pendekatan moralnya.
Apakah bangunan kehidupan itu masih patuh dikatakan tegak dan kokoh? Atau sudah
memasuki ambang kehancuran?
IMM yang menjadi bagian dari kehidupan itu menjadi dilematis dalam
menentukan sikapnya dan arah gerakannya kedepan. Penilaian yang agak lebih objetif sering datang dari pihak luar. Penilaian pada
diri sendiri lebih banyak dan berat bobot
subjektifnya, karena ada perasaan takut , rasa inferior dan semacamnya,
yang mengakibatkan diri bersifat tertutup dan tidak ada semangat kuat untuk
berbenah diri. Manusia seperti ini sering merasa benar sendiri dan cenderung
saling menyalahkan dalam melihat persoalan, baik yang sifatnya struktural
maupun non-struktural.
Hal ini bisa saja terjadi dalam masyarakat kampus atau mungkin bisa
menjangkit kader IMM, seperti yang disindir oleh Jose Otace Gesset, filosof
asal Spanyol, “mengalami rusak berat
karena meniniggalkan komitment moralnya. Mereka menjadi komunitas yang liar,
mengagungkan dan memenangkan pola hidup fulgar dan amoral. Mereka gemar dan
mengabsahkan penyimpangan dan pemasungan nilai-nilai kebenaran. ( M. Irfan,
Abdul Wahid. 2000 )
Potret manusia seperti itu merupakan representase manusia di abad 21 ini
yang menyukai keliaran dan kebiadaban, baik pada diri sendiri maupun sesamanya.
Mereka arogan dengan kreasi-kreasi sains, menkultuskan profesi dan
mengapresiasikannya dijalur kompotisi bebas nilai. Sosok manusia seperti itulah
yang dikategorikan sebagai pencemar peradaban, yang kejiwaannya terjajah oleh
oirentasi dan tuntunan materialistik yang “dimahatinggikan”, yang menempatkan
kehidupan sesama hanya sebgai objek perburuan hasrat-hasrat bebasnya. Bagi
komunitas yang taat beragama corak masyarakat seperti itu merupakan ancaman
yang membahayakan dinamika kesejarahan.
Besarnya ancaman terhadap bangunan masyarakat yang tak berpondasi moral
itu terbukti dengan di utusnya Nabi Muhammad SAW, untuk mengembalikan dan
membebaskan masyarakat dari kebiadaban atau penafian moral menjadi masyarakat
bermoral ( akhlak ). Inilah yang dilakukan oleh Muhammad dimana kondisi itu
terjadi di arab yang begitu kejam dan bengis, diskriminatif ,eksploitasi sering
terjadi. Kondisi itu juga terjadi hingga sekarang yang terjebak pada pada dunia
fatamorgana kehidupan. Mereka yang punya ilmu pengetahuan tapi tidak memiliki
arti apa-apa, mereka memilih jalan yang kontara dengan nilai-nilai kemanusiaan,
mereka yang dengan sadis menghabisi dan merampas hak-hak rakyat kecil.
Mereka membutakan mata hatinya, kepekaan moral dan spritualnya
ditumpulkan, diimpotensikan dan dimandulkan. Mereka sibuk dengan “memperbudak”
diri atau diperbudak oleh tuntutan penumpukan kekayaan, pemujaan target-target
kebendaan dan nafsu kebinatangan. Mereka sedang terbius oleh pesona karier dan
meterialisasi profesi yang terus mendesaknya. Begitu kuatnya tarikan itu sehingga
mereka memilih jalan kriminalitas yang bertentangan dengan sumpah jabatan dan
kode etik profesinya. Mereka lapuk oleh gelora nafsu yang ditempatkan sebagai
tuan dan “tuhannya”.
Allah SWT. memperingatkan lewat firmaNya
“ pernahkah engkau melihat yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya. Allah membiarkanya sesat dengan ilmunya dan Allah mengunci (menutup)
pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas kepalannya itu” ( QS.
Al-Jatsiyah: 23 )
Peringatan Allah itu menunjukkan pada sosok manusia berilmu, yang
kehilangan komitment sejati keilmuannya. Mereka mampu membedakan antara yang
baik, benar, salah dan jahat ( munkar ) mereka menutup mata batinnya dan membuka
mata “Kaca mata anjingnya”. Sosok manusia yang kehilangan ahlakul karimah-nya
individu seperti itu menunjukkan bahwa dia gagal menyelamatkan dirinya dari
belenggu dan kemunafikan “ pemberhalaan” nafsu-nafsunya. Nafsu kebinatangan
diibaratkan mengembara dan menguasai hasrat
keberagaman dan kemanusiaanya.
Semua aktivitas hidupnya tidak lagi ditempatkan sebagai pekerjaan yang
bernuaansa “IBADAH” yang berimplikasi transendental dan kemanusiaan, melainkan
berbentuk usaha atau layanan sosial yang menghalalkan pembinasaan hak-hak hidup
manusia.
Ilmuan terkemuka indonesia, Soejatmoko mengatakan” Agama harus
mengaitkan tanggung jawab etis dan tujuan-tujuan moral dengan peran aktif dalam
proses menentukan sejarah. Agama harus mengajarkan cara berfikir dan jiwa yang
menuh kerendahan hati yang amat diperlukan di zaman yang ditandai dengan
perubahan-perubahan yang pesat dan tak terduga”
Pernyataan Soejatmiko itu mempertegas komitmen manusia pada agamanya.
Manusia yang sudah menjastifikasi dirinya sebgai mahluk ciptaan yang punya
tugas berat dipermukaan bumi ( khalifa ). Sudah seharusnya manusia
mengartikulasikan teks-teks Al-Qur’an dalam kehidupan demi terwujudnya
keselarasan dan terbentuknya sistem sosial kondusif. Jangan sampai kita seperti
yang digambarkan Nabi Muhammad SAW.
“Umatku akan ditimpa bencana, jika ilmu pengetahuan yang dipelajarinya
bukan untuk menguatkan keyakinan terhadap agamanya”
Konstruk Paradigma IMM
Ditengah arus tak bermoral ini, IMM harus melakukan rekonstrusi
paradigama terhadap kondisi kemasyarakatan dan bahkan sudah menjangkit kaum
terdidik (akademisi) dimana “pendidikan
hanya berfungsi sebagai ajang untuk mendapatkan gelar dan pekerjaan
(pragmatisme pendidikan)”. Yang seharusnya para penyelenggara pendidikan
melakukan rekonstruksi paradigma (kebijakan dan perilaku) demi mencerdaskan
anak bangsa ditengah arus yang tak bermoral ini.
IMM sebagai gerakan Spritualitas, Intelektualitas dan Humanitas dengan
tujuaan “ Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam
rangka mencapai tujuan Muhammadiya” harus mampau menyentuh lapisan masyarakat
sampai lapisan terbawah. Kehadiran IMM ditengah arus tak bermoral yang hampir
menjangkit semua lapisan masyarakat, “yang seakan kehilangan jati diri dan
tercemar nuraninya, tereduksi kebebasan berfikir dan independensinya yang hanya
membudakkan dirinya pada seseorang dan kekuatan yang berhasil menjajahnya”(Lewis Yablonsky).
Gerakan spritual harus menjadi tawaran solusi dari kondisi masyarakat
seperti di atas, dimana masyarakata harus dibersihkan dari pola berfikir
paragmatis serta dimurnikan aqidahnya. Hal ini oleh Konto Wijoyo, harus
dilakukan liberasi (nahi mungkar ) pembebasan manusia dari keterkungkungan
berfikir, menghabakan diri pada benda dan pada penguasa yang dzolim. Kekuatan
spritual akan menjadi landasan dan ponadasi yang akan mengantarkan manusia pada
keselamatan dunia dan ahirat ( transendensi ).
IMM harus tampil sebagai juru selamat yang dapat memberikan petunjuk dan
arahan dengan memaksimalkan kaderisasi supaya IMM tidak tercerabut dari akar
paradigmatiknya seperti apa yang dikatakan pak. Ketua (Ya’Kub). Kaderisasi
adalah sebuah proses penyadaran, akan jati diri seorang manusia, untuk apa ia
diciptakan dan mau kemana? Sehingga tidak kehilangan jati diri yang sebenarnya,
oleh Pak. Sek ( Yusran ) Disebut kesadaran tak menentu ( kadang sadar dan
kadang tidak ( fallace ).
IMM juga harus memantapkan gerakan Intelektualnya khususnya dikalangan
mahasiswa dimana kondisi mahasiswa hari ini sangat menghawatirkan dan
memperihatinkan karena sudah dijangkit oleh sifat, apatis, hedonis, dan
pragmatis bahkan lebih parahnya lagi sudah tidak mencerminkan sebagai kaum
terdidik (masyarakat ilmiah) dengan terlibat tauran atau perkelahian antar
sesama. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut karena akan merusak
tatanan sosial dan merusak citra kaum terdidik (akademisi). Pencerdasan dengan
membudayakaan tradisi membaca, menulis, diskusi, kajian dan dialog akan meretas
kesenggangan yang akan mempererat tali persaudaran karena dibangun diatas
rasionalitas dan ilmu pengetahuan, sehingga tindakan yang tidak sepantasnya
dilakukan oleh mahasiswa tidak terulang.
Paradigma yang harus dibangun oleh kader-kader IMM adalah paradigma
holistik (utuh), tidak melihat realitas dan persoalan secara parsial sehingga
tidak bersikap emosional dalam menyelesaikan persoalan, tapi lebih bersikap
bijaksana dalam menyelesaiakan masalah. Cara padang yang beberda adalah sesuatu
yang tidak bisa dihindari, karena perbedaan latar belakang pendidikan,
pengalaman, dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuk karakter
sesorang. Perbedaan tersebut perlu dibangun di atas landasan kebenaran supaya
tidak terjerumus pada kesetan ( perbutan mungkar ).
Maka dari itu kekuatan spritual dan intelektual harus seiring dan
sejalan supaya menghasilkan artikulasi yang jelas dan mampu mendorong kepekaan
serta kepedulian sosial ( humanis ). Apabila kekuatan ini bersatu maka
cita-cita IMM akan tercapai dengan menghasilkan sosok manusia yang luar biasa (
sang pencerah ). Sehingga cita-cita peserikatan ( Muhammadiyah ) akan mudah
tercapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Supaya kita tak gampang
menjadi bangsa pemarah mudah terpancing oleh rumor yang menyesatkan dan
menyulut radikalisme sosial, sebab kita didik oleh agama yang mengunggulkan
kesetiakawan (persaudaraan) dan cinta kasih.“Tidak disebut beriman diantara
kalian, sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri”,
demikian penegasan Nabi Muhammad SAW.
Kata cinta yang disabdakan Nabi di atas pernah pula diungkapkan oleh
Jalaluddin Rumi, “tanpa cinta, dunia akan membeku. Cintalah yang semestinya
menjadi pilar utama bagi bangunan hubungan antar manusia, antar bangsa, antar
kebudayaan dan sistem hidup yang berbeda”
Apa yang dideskripsikan oleh Jalaludidin Rumi di atas menginsyaratkan
kepada kita semua bahwa cinta dapat memediasi keragaman menjadi “kebersamaan”
dan mencairkan kebekuan serta membedah kultur eksklusifitas. Cinta sesama (
ikatan ) dapat melahirkan jiwa solidaritas dan tak berpangku tangan tatkala
sesamanya di aniaya oleh tangan-tangan jahat.
Masing-masing pribadi ahirnya dapat Hidup saling berdampingan, bekerja
sama dalam sebuah urusan, tak memandang kekurangan sesama dan saling memberi
nasehat serta berbuat kebaikan ( Fastabiqul Khaerat ).
Dan bukan sebuah kemustahilan untuk menjalin dan memupuk kebersamaan
dalam keragaman (pluralitas) etnis, ras, agama dan antar golongan jika kita
tidak gampang terbawa emosi, ketamakan, provokasi dan ambisi kekuasaan.
Mari kuatkan barisan dalam memperjuangkan kebenaran!! Jayalah IMM Jaya,
Abadi Perjuangan Kita.
“ Kalau Kalian Bukan Bagian dari Solusi, Maka Kalian Bagian dari
Masalah”
Penjus, 17 Februari 2012
Penulis,
A h m a d
Nbm: 1066460
( Kabidor, PC. IMM Kota Massar )
Langganan:
Komentar (Atom)