“IMM DI TENGAH ARUS
TAK BERMORAL”
Hancurnya tatanan sosial yang selama ini terbangun karena moral yang
rapuh, yang menyebabkan kehidupan menjadi serba instan dan mekanik. Salah satu
tolak ukur yang bisa digunakan untuk menilai bangunan kehidupan suatu
masyarakat adalah pendekatan moralnya.
Apakah bangunan kehidupan itu masih patuh dikatakan tegak dan kokoh? Atau sudah
memasuki ambang kehancuran?
IMM yang menjadi bagian dari kehidupan itu menjadi dilematis dalam
menentukan sikapnya dan arah gerakannya kedepan. Penilaian yang agak lebih objetif sering datang dari pihak luar. Penilaian pada
diri sendiri lebih banyak dan berat bobot
subjektifnya, karena ada perasaan takut , rasa inferior dan semacamnya,
yang mengakibatkan diri bersifat tertutup dan tidak ada semangat kuat untuk
berbenah diri. Manusia seperti ini sering merasa benar sendiri dan cenderung
saling menyalahkan dalam melihat persoalan, baik yang sifatnya struktural
maupun non-struktural.
Hal ini bisa saja terjadi dalam masyarakat kampus atau mungkin bisa
menjangkit kader IMM, seperti yang disindir oleh Jose Otace Gesset, filosof
asal Spanyol, “mengalami rusak berat
karena meniniggalkan komitment moralnya. Mereka menjadi komunitas yang liar,
mengagungkan dan memenangkan pola hidup fulgar dan amoral. Mereka gemar dan
mengabsahkan penyimpangan dan pemasungan nilai-nilai kebenaran. ( M. Irfan,
Abdul Wahid. 2000 )
Potret manusia seperti itu merupakan representase manusia di abad 21 ini
yang menyukai keliaran dan kebiadaban, baik pada diri sendiri maupun sesamanya.
Mereka arogan dengan kreasi-kreasi sains, menkultuskan profesi dan
mengapresiasikannya dijalur kompotisi bebas nilai. Sosok manusia seperti itulah
yang dikategorikan sebagai pencemar peradaban, yang kejiwaannya terjajah oleh
oirentasi dan tuntunan materialistik yang “dimahatinggikan”, yang menempatkan
kehidupan sesama hanya sebgai objek perburuan hasrat-hasrat bebasnya. Bagi
komunitas yang taat beragama corak masyarakat seperti itu merupakan ancaman
yang membahayakan dinamika kesejarahan.
Besarnya ancaman terhadap bangunan masyarakat yang tak berpondasi moral
itu terbukti dengan di utusnya Nabi Muhammad SAW, untuk mengembalikan dan
membebaskan masyarakat dari kebiadaban atau penafian moral menjadi masyarakat
bermoral ( akhlak ). Inilah yang dilakukan oleh Muhammad dimana kondisi itu
terjadi di arab yang begitu kejam dan bengis, diskriminatif ,eksploitasi sering
terjadi. Kondisi itu juga terjadi hingga sekarang yang terjebak pada pada dunia
fatamorgana kehidupan. Mereka yang punya ilmu pengetahuan tapi tidak memiliki
arti apa-apa, mereka memilih jalan yang kontara dengan nilai-nilai kemanusiaan,
mereka yang dengan sadis menghabisi dan merampas hak-hak rakyat kecil.
Mereka membutakan mata hatinya, kepekaan moral dan spritualnya
ditumpulkan, diimpotensikan dan dimandulkan. Mereka sibuk dengan “memperbudak”
diri atau diperbudak oleh tuntutan penumpukan kekayaan, pemujaan target-target
kebendaan dan nafsu kebinatangan. Mereka sedang terbius oleh pesona karier dan
meterialisasi profesi yang terus mendesaknya. Begitu kuatnya tarikan itu sehingga
mereka memilih jalan kriminalitas yang bertentangan dengan sumpah jabatan dan
kode etik profesinya. Mereka lapuk oleh gelora nafsu yang ditempatkan sebagai
tuan dan “tuhannya”.
Allah SWT. memperingatkan lewat firmaNya
“ pernahkah engkau melihat yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
Tuhannya. Allah membiarkanya sesat dengan ilmunya dan Allah mengunci (menutup)
pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutup atas kepalannya itu” ( QS.
Al-Jatsiyah: 23 )
Peringatan Allah itu menunjukkan pada sosok manusia berilmu, yang
kehilangan komitment sejati keilmuannya. Mereka mampu membedakan antara yang
baik, benar, salah dan jahat ( munkar ) mereka menutup mata batinnya dan membuka
mata “Kaca mata anjingnya”. Sosok manusia yang kehilangan ahlakul karimah-nya
individu seperti itu menunjukkan bahwa dia gagal menyelamatkan dirinya dari
belenggu dan kemunafikan “ pemberhalaan” nafsu-nafsunya. Nafsu kebinatangan
diibaratkan mengembara dan menguasai hasrat
keberagaman dan kemanusiaanya.
Semua aktivitas hidupnya tidak lagi ditempatkan sebagai pekerjaan yang
bernuaansa “IBADAH” yang berimplikasi transendental dan kemanusiaan, melainkan
berbentuk usaha atau layanan sosial yang menghalalkan pembinasaan hak-hak hidup
manusia.
Ilmuan terkemuka indonesia, Soejatmoko mengatakan” Agama harus
mengaitkan tanggung jawab etis dan tujuan-tujuan moral dengan peran aktif dalam
proses menentukan sejarah. Agama harus mengajarkan cara berfikir dan jiwa yang
menuh kerendahan hati yang amat diperlukan di zaman yang ditandai dengan
perubahan-perubahan yang pesat dan tak terduga”
Pernyataan Soejatmiko itu mempertegas komitmen manusia pada agamanya.
Manusia yang sudah menjastifikasi dirinya sebgai mahluk ciptaan yang punya
tugas berat dipermukaan bumi ( khalifa ). Sudah seharusnya manusia
mengartikulasikan teks-teks Al-Qur’an dalam kehidupan demi terwujudnya
keselarasan dan terbentuknya sistem sosial kondusif. Jangan sampai kita seperti
yang digambarkan Nabi Muhammad SAW.
“Umatku akan ditimpa bencana, jika ilmu pengetahuan yang dipelajarinya
bukan untuk menguatkan keyakinan terhadap agamanya”
Konstruk Paradigma IMM
Ditengah arus tak bermoral ini, IMM harus melakukan rekonstrusi
paradigama terhadap kondisi kemasyarakatan dan bahkan sudah menjangkit kaum
terdidik (akademisi) dimana “pendidikan
hanya berfungsi sebagai ajang untuk mendapatkan gelar dan pekerjaan
(pragmatisme pendidikan)”. Yang seharusnya para penyelenggara pendidikan
melakukan rekonstruksi paradigma (kebijakan dan perilaku) demi mencerdaskan
anak bangsa ditengah arus yang tak bermoral ini.
IMM sebagai gerakan Spritualitas, Intelektualitas dan Humanitas dengan
tujuaan “ Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam
rangka mencapai tujuan Muhammadiya” harus mampau menyentuh lapisan masyarakat
sampai lapisan terbawah. Kehadiran IMM ditengah arus tak bermoral yang hampir
menjangkit semua lapisan masyarakat, “yang seakan kehilangan jati diri dan
tercemar nuraninya, tereduksi kebebasan berfikir dan independensinya yang hanya
membudakkan dirinya pada seseorang dan kekuatan yang berhasil menjajahnya”(Lewis Yablonsky).
Gerakan spritual harus menjadi tawaran solusi dari kondisi masyarakat
seperti di atas, dimana masyarakata harus dibersihkan dari pola berfikir
paragmatis serta dimurnikan aqidahnya. Hal ini oleh Konto Wijoyo, harus
dilakukan liberasi (nahi mungkar ) pembebasan manusia dari keterkungkungan
berfikir, menghabakan diri pada benda dan pada penguasa yang dzolim. Kekuatan
spritual akan menjadi landasan dan ponadasi yang akan mengantarkan manusia pada
keselamatan dunia dan ahirat ( transendensi ).
IMM harus tampil sebagai juru selamat yang dapat memberikan petunjuk dan
arahan dengan memaksimalkan kaderisasi supaya IMM tidak tercerabut dari akar
paradigmatiknya seperti apa yang dikatakan pak. Ketua (Ya’Kub). Kaderisasi
adalah sebuah proses penyadaran, akan jati diri seorang manusia, untuk apa ia
diciptakan dan mau kemana? Sehingga tidak kehilangan jati diri yang sebenarnya,
oleh Pak. Sek ( Yusran ) Disebut kesadaran tak menentu ( kadang sadar dan
kadang tidak ( fallace ).
IMM juga harus memantapkan gerakan Intelektualnya khususnya dikalangan
mahasiswa dimana kondisi mahasiswa hari ini sangat menghawatirkan dan
memperihatinkan karena sudah dijangkit oleh sifat, apatis, hedonis, dan
pragmatis bahkan lebih parahnya lagi sudah tidak mencerminkan sebagai kaum
terdidik (masyarakat ilmiah) dengan terlibat tauran atau perkelahian antar
sesama. Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut karena akan merusak
tatanan sosial dan merusak citra kaum terdidik (akademisi). Pencerdasan dengan
membudayakaan tradisi membaca, menulis, diskusi, kajian dan dialog akan meretas
kesenggangan yang akan mempererat tali persaudaran karena dibangun diatas
rasionalitas dan ilmu pengetahuan, sehingga tindakan yang tidak sepantasnya
dilakukan oleh mahasiswa tidak terulang.
Paradigma yang harus dibangun oleh kader-kader IMM adalah paradigma
holistik (utuh), tidak melihat realitas dan persoalan secara parsial sehingga
tidak bersikap emosional dalam menyelesaikan persoalan, tapi lebih bersikap
bijaksana dalam menyelesaiakan masalah. Cara padang yang beberda adalah sesuatu
yang tidak bisa dihindari, karena perbedaan latar belakang pendidikan,
pengalaman, dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuk karakter
sesorang. Perbedaan tersebut perlu dibangun di atas landasan kebenaran supaya
tidak terjerumus pada kesetan ( perbutan mungkar ).
Maka dari itu kekuatan spritual dan intelektual harus seiring dan
sejalan supaya menghasilkan artikulasi yang jelas dan mampu mendorong kepekaan
serta kepedulian sosial ( humanis ). Apabila kekuatan ini bersatu maka
cita-cita IMM akan tercapai dengan menghasilkan sosok manusia yang luar biasa (
sang pencerah ). Sehingga cita-cita peserikatan ( Muhammadiyah ) akan mudah
tercapai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Supaya kita tak gampang
menjadi bangsa pemarah mudah terpancing oleh rumor yang menyesatkan dan
menyulut radikalisme sosial, sebab kita didik oleh agama yang mengunggulkan
kesetiakawan (persaudaraan) dan cinta kasih.“Tidak disebut beriman diantara
kalian, sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri”,
demikian penegasan Nabi Muhammad SAW.
Kata cinta yang disabdakan Nabi di atas pernah pula diungkapkan oleh
Jalaluddin Rumi, “tanpa cinta, dunia akan membeku. Cintalah yang semestinya
menjadi pilar utama bagi bangunan hubungan antar manusia, antar bangsa, antar
kebudayaan dan sistem hidup yang berbeda”
Apa yang dideskripsikan oleh Jalaludidin Rumi di atas menginsyaratkan
kepada kita semua bahwa cinta dapat memediasi keragaman menjadi “kebersamaan”
dan mencairkan kebekuan serta membedah kultur eksklusifitas. Cinta sesama (
ikatan ) dapat melahirkan jiwa solidaritas dan tak berpangku tangan tatkala
sesamanya di aniaya oleh tangan-tangan jahat.
Masing-masing pribadi ahirnya dapat Hidup saling berdampingan, bekerja
sama dalam sebuah urusan, tak memandang kekurangan sesama dan saling memberi
nasehat serta berbuat kebaikan ( Fastabiqul Khaerat ).
Dan bukan sebuah kemustahilan untuk menjalin dan memupuk kebersamaan
dalam keragaman (pluralitas) etnis, ras, agama dan antar golongan jika kita
tidak gampang terbawa emosi, ketamakan, provokasi dan ambisi kekuasaan.
Mari kuatkan barisan dalam memperjuangkan kebenaran!! Jayalah IMM Jaya,
Abadi Perjuangan Kita.
“ Kalau Kalian Bukan Bagian dari Solusi, Maka Kalian Bagian dari
Masalah”
Penjus, 17 Februari 2012
Penulis,
A h m a d
Nbm: 1066460
( Kabidor, PC. IMM Kota Massar )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar