“Gerakan Paripurna Mahasiswa”
Melihat
fonemana akhir-akhir ini seakan Mahasiswa kehilangan arah, cacian untuk mereka
bermunculan silih berganti dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka seakan
kehilangang roh gerakan, identitasnya di gadaikan untuk kepentingan pragmatis.
Gerakan mereka diperjualbelikan untuk kepentingan suatu kelompok, klaim
kepentingan bermunculan dimana-mana. Mereka yang dulunya “RAKUS” ( Rasional,
Analisis, Kritis, Universal dan Sistematis) berubah secara total. Dulu mereka
dikenal terpelajar dan disanjung, kini berubah menjadi orang yang beringas,
suka tawuran, demonstran yang menyusahkan masyarakat. Presepsi masyarakat
berubah seiring dengan bergesernya “orientasi” Mahasiswa ??.
Menanggapi
persoalan dia atas, mahasiswa kehilangan arah, boleh jadi karena hilangnya
kepercayaan dan tidak adanya lagi tumpuan untuk mengadukan persoalan yang ada
dibenak mereka.
Frustasi
melihat persoalan kebangsaan yang digadaikan oleh mereka yang mengaku wakil
rakyat dengan mengatasnamakan rakyat. Hilangnya kepercayaan dari masyarakat
yang seharusnya menjadi bagian dari roh gerakan dalam memberikan sprit, berbagai
persoalan yang muncul menyudutkan mahasiswa.
Bagi
saya, mahasiswa adalah tumpuan
terakhir bagi generasi penerus bangsa. Merka adalah pemuda yang punya cita-cita
luhur, mereka mewarisi semangat muda
dalam melihat persoalan di negeri ini. Mahasiswa adalah sosok yang takan pernah
tergantikan dalam sejarah bangsa indonesia yang masih memegang teguh amanat
dari rakyat karena mereka lahir dari rahim yang sama yaitu, ibu pertiwi.
Gerakan mahasiswa takan pernah habis dibahas dari waktu kewaktu, meraka adalah
tunas muda yang senantiasa akan tumbuh dan menjalar samapi menghasilkan
tunas-tunas muda berikutnya. Mereka tidak bisa dibungkam oleh siapapun karena
akan senantiasa menjadi martil-martil tangguh.
Teriakan
mahasiswa adalah mantra bagi “setan-setan” negeri ini yang menghantui
masyarakat indonesia. Mereka akan tetap bergumam menyuarakan suara kebenaran
demi satu tujuan, “rakyat berdaulat”.
Sudah
saatnya mahasiswa bangkit dari kerterpurukkan presepsi masyarakat yang
kebanyakan lahir dari asumsi tak berdasar.
Paradigma
masyarakat terhadap mahasiwa akan berubah ketika mereka memaknai trilogi gerakan
yang ada di bawah ini.
1. Gerakan
Spritual
"Orang yang spiritualitasnya berkembang
melalui
nilai-nilai positif dari disiplin,
penguasaan dan cinta, adalah orang yang memiliki
kompetensi luar biasa, dan mereka terpanggil dan
menjawab panggilan untuk melayani dunia dengan cinta mereka."
(M. Scott Peck, M.D, dalam The Road Less Traveled)
nilai-nilai positif dari disiplin,
penguasaan dan cinta, adalah orang yang memiliki
kompetensi luar biasa, dan mereka terpanggil dan
menjawab panggilan untuk melayani dunia dengan cinta mereka."
(M. Scott Peck, M.D, dalam The Road Less Traveled)
Istilah “spiritual” berasal dari kata dasarnya
“spirit”, yang berarti roh. Ada juga istilah lain yaitu: “spiritus” dalam
Bahasa Latin berarti bahan bakar. Mahasiswa tidak boleh
kehilangan roh yang menjadi dasar perjuangan dalam meneriakkan suara kebenaran.
Gerakan spritual adalah gerakan ketuhanan yang memaknai semua kerja adalah
dorongan dari yang Maha Suci ( Allah ). Perjuangan tidak akan pernah berhasil
secara sempurna tanpa dasar spritual karena akan berujung pada kehampaan
pemaknaan hidup. Gerakan mahasiswa adalah gerakan pencerahan, mengankat derajat
kaum tertindas (Mustad’afin) sebagai seruan dari Tuhan sehingga pengapdiannya
tidak terlepas dari dari kuatnya dorongan spritualitas.
Menurut
saya spritualitas adalah dalil bagi mahasiswa untuk melakukan perlawan kepada
siapa yang menginkari nilai kemanusiaan atau yang melakukan penindasan secara
psikologi dan pisik terhadap rakyat yang disebut oleh Soekarno, “Marhaen”.
Keberpihakan kepada masyarakat tertindas adalah
penerjemahan terhadap gerakan spritual dimana keberpihakan itu adalah
manifestasi dari perintah Tuhan. Spritual tidak hanya menyangkut dan berkaitan
dengan batiniah seorang manusia tapi, spritual adalah bentuk riil atas
kesadaran manusia sebagai hamba Tuhan yang ingin melanjutkan pesan Tuhan dalam
tindakan keberpihakan.
2. Gerakan Intelektual
Seorang Intelektual bagi saya, adalah bukan mereka
yang jago bicara, ceramah, pidato atau ahli dalam berkomunikasi. Intelektual adalah
mereka yang resah melihat ketika ketidak adilan dan melakukan perlawanan,
pembelaan dan keberpihakan. Gerakan intelektual, bukan gerakan teoritis belaka
tapi gerakan praktis karena bersentuhan
langsung dengan realitas sosial. Bangunan idealisme sangat menentukan
arah gerakan intelektual dalam menentukan gerak dan langkah menuju perubahan
kearah yang lebih baik.
Ide-ide kaum intelektual mengalir menelusuri lorong,
mengisi ruang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar